Pages

Showing posts with label esei. Show all posts
Showing posts with label esei. Show all posts

2.20.2009

Nyaleg

Kita sedang menunggu kiprah mereka, yang memasang gambar wajahnya di ruang-ruang publik. Ya, menjelang Pemilu tahun ini banyak wajah terpampang di banyak tempat. Di sepanjang jalan, yang sepi maupun yang ramai, di perempatan, pasar, dan tempat umum lainnya. Apakah ini demokrasi? Kita tak bisa langsung menjawab. Ini pertanyaan serius. Demokrasi, tentu saja, tidak ditentukan oleh gambar. Demokrasi adalah kecerdasan untuk menilai. Demokrasi adalah kecerdasan untuk berpihak, kepada kebenaran. Demokrasi adalah kearifan untuk membawa mereka yang masih berada di bawah selimut kegelapan ke ruang yang lebih cerah.

Memang, tampak banyak yang tak beres dalam demokrasi kita. Dalam banyak hal, dan oleh banyak orang, demokrasi dimaknai sebagai ritual tiap beberapa tahun sekali untuk memilih.

1.21.2009

Konsumerisme dan Sosiologi Konsumsi

Jika ungkapan Descartes “Aku berpikir, maka aku ada!” menjadi kebanggan dan wujud peneguhan eksistensi manusia berdasarkan rasionalitas. Saat ini, yang dominan adalah, “Aku berbelanja, maka aku ada!” Sebuah peneguhan eksistensial manusia yang kadang tanpa dasar nalar. Kapitalisme pasar membentuk manusia menjadi makhluk ekonomi sebagai satu-satunya dimensi kehidupannya. Tentu saja, kemudian, hubungan sosial antar sesama manusia sarat dengan simbol dan logika ekonomi.

Ketika produksi kapitalisme mencapai puncak kelimpahan barang, sehingga kebutuhan tercukupi, perusahaan berusaha bukan hanya mencipta barang, namun sekaligus menciptakan kebutuhan.

9.11.2008

Media Massa: Hegemoni dan Demokratisasi

Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang murni, yang bebas kepentingan. Begitu pula media massa. Ia tak lepas dari kepentingan manusia. Media massa, dengan teks, gambar, serta berbagai simbol lain kemudian menjadi teror yang menyusup di balik kesadaran manusia. Ia bisa menjadi sebentuk teror yang baik, mencerahkan, serta mencerdaskan. Sebaliknya, media massa juga bisa menjadi mimpi buruk. Menjadi teror kesadaran, lalu menggiring kesadaran kita pada apa yang dikehendaki media.

Media massa menjalankan peran dan fungsinya seperti halnya institusi agama, pendidikan, kebudayaan, dan seni secara yang ideologis dan hegemonis menggiring kepatuhan masyarakat pada kekuasaan. Melihat hal tersebut Gramsci menilai bahwa media massa merupakan perangkat hegemoni penguasa.

1.09.2008

Tubuh di Akhir Modernitas

Tubuh bukan lagi sekumpulan tulang, daging, urat dan kulit yang padu dalam fungsi yang utuh. Pengertian tubuh manusia bisa terpotong-potong ke dalam artefak-artefak, di mana setiap artefak mempunyai ideal masing-masing. Misalnya besar payudara, besar pinggul, model rambut—lurus atau keriting, warna kulit, dan lain sebagainya.

Banyak hal bermain peran dalam skenario dekonstruksi atas tubuh manusia. Mulai dari media massa, hingga salon kecantikan pinggir jalan. Semua mengarah pada satu hal. Kepentingan modal dan gaya hidup; penampilan, yang secara tak langsung disepakati. Di satu sisi, ini merupakan berkah bagi industri kosmetik dan pengusaha salon kecantikan. Namun, di sisi lain, adalah celaka bagi manusia,-- makhluk yang berdimensi ragam--ketika masuk dalam kesadaran homogen-imitatif dan manipulatif itu. Dalam kesadaran hegemonik ini manusia tidak lagi bebas memilih model rambut, bentuk tubuh, ukuran betis, dan penampilannya.

Relasi “berkah bagi industri dan celaka untuk manusia” seperti di sebutkan di atas, sebenarnya bukan tanpa ketegangan. Pertentangan antara kepentingan ekonomi dan kehidupan manusia telah meletakkan manusia di bawah subordinasi ekonomi. Segala sesuatu mengenai kehidupan manusia disimplifikasi dalam term ekonomis dan tunduk pada kekuatan kapital. Mulai dari relasi sosial, tujuan hidup, relasi budaya, hingga tak luput agama. Manusia kemudian muncul sebagai Homo Economicus, yang mengukur segala sesuatu dengan ukuran-ukuran ekonomi.

Begitu pula yang terjadi dengan tubuh. Tubuh dianggap sebagai investasi yang dianggap sebagai komoditas bagi kepentingan ekonomi. Komodifikasi tubuh dilakukan oleh industri kosmetik dan fashion dengan cara membentuk kesadaran masyarakat melalui iklan di berbagai media massa. Iklan tersebut selanjutnya menciptakan image ideal tubuh manusia. Tubuh sebagaimana diidealkan industri kosmetik yakni, yang putih mulus kulitnya, rambut lurus, ukuran dada tertentu, berpakaian model paling anyar bermerek terkenal, dan lan sebagainya.

Sayangnya, hegemoni iklan seperti disebut di atas kelewat kuat dari kesadaran manusia. Sehingga, pesan simbolik dalam narasi iklan tersebut diterima mentah-mentah. Apalagi, logika modernitas akhir jarang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan refleksi. Aninal simbolicum, manusia yang memahami simbol, sebagaimana digagas Ernst Cassier (Adian, 2005), dibelokkan seturut kepentingan kapitalisme. Kekuatan hegemoni modal yang direpresentasikan melalui mode, fashion, dan gaya hidup, memaksa kita menggulati realitas tanpa melakukan interprestasi. Akhirnya disadari atau pun tidak, kesadaran manusia tidak berjarak sedikit pun dari realitas di luar dirinya.

Di level mikro, manusia adalah makhluk eksistensial yang ingin diakui keberadaannya. Cara meng-“ada” masyarakat di akhir modernitas bukan lagi karena berpikir, tetapi karena mengkonsumsi. Identitas yang diperlihatkan individu dalam gaya hidup, mengarah pada diferensiasi antar status simbolik dan kelas sosial. Keintiman manusia terpenggal dalam jarak antara kamu-aku atau kami dan mereka. Masing-masing kelompok ini menampakkan simbol kelas dan status mereka.

Hal tersebut berpengaruh pada individu-individu, ketika menampakkan simbol sesuai masyarakat kebanyakan. Sebab dengan seperti itu, individu merasa dirinya menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Sepakat dengan Goffman dengan teori dramaturginya, bahwa diri ditentukan oleh kondisi sosialnya (Poloma, 2003). Oleh karenanya, individu, dalam interaksi yang mereka lakukan ingin selalu menunjukkan citra diri yang terbaik. Citra diri atau tampakan luar individu akan terasa lebih penting daripada substansi.

Dari sinilah kemudian politisasi tubuh manusia berkembang biak. Penampilan yang terlihat pada individu sangat penting karena menjadi sumber utama makna. Individu mengontrol penampilan mereka sendiri dan penampilan orang lain dalam pergaulan sosial. Sehingga, tampakan luar selalu melekat pada makna tertentu. Dalam hal ini, persoalan perbedaan gaya hidup antar kelas dan status merupakan manipulasi dan interpretasi tampakan luar individu (Chaney: 1996).

Iklim masyarakat modern yang kompetitif dan individualistik, juga membentuk iklim persaingan dalam hal menampilkan diri. Kondisi kompetitif masyarakat dalam hal gaya hidup, mengakibatkan segala sesuatu berhenti pada kesemuan. Masyarakat tidak lagi memperhitungkan apakah benda yang mereka konsumsi berguna atau tidak. Sebab, logika konsumsi masyarakat adalah sekaligus pemenuhan hasrat untuk diakui di masyarakat. Akhirnya masyarakat terjebak dalam artifisialitas hidup. Berlebihan dalam mengkonsumsi menjadi ritus keseharian manusia.

Masyarakat di akhir modernitas berlomba menjadi ideal sebagaimana dilukiskan iklan dan dikehendaki kapitalisme. Mereka tak peduli dari kelas mana dan golongan apa. Apakah miskin atau kaya, yang terpenting penampilan. Simbol yang mereka tampilkan melalui apa yang mereka pakai dan konsumsi menunjukkan identitas. Perilaku mereka serupa teriakan “aku bersolek, maka aku ada!”

12.07.2007

Membaca Afrizal Malna di Panggung Teater

“aku ingin tetap di sini, melawan bahasa!”

Kalimat di atas menutup pementasan “Keluarga yang dikuburkan”, oleh kelompok Teater TESA Surakarta, 16 November 2007 di aula STAIN Salatiga. Menonton pertunjukan teater tersebut, mengingatkan saya pada sosok penyair Afrizal Malna dalam berbagai puisi yang ia tulis. Pertunjukan tersebut, bagi saya, hampir serupa dengan teks-teks Afrizal. Penuh teka-teki, namun sarat protes sosial. Kalimat-kalimat yang meluncur dari percakapan antar pemain seolah berdiri sendiri, namun sesungguhnya berangkai. Dan ini adalah khas teks puisi Afrizal.

Di sini, saya tidak ingin membahas teknis pementasan tersebut diolah ke hadapan saya sebagai penonton. Atau cara penulis naskah mengadaptasi teks-teks Afrizal menjadi naskah panggung. Saya bukan orang yang banyak tahu tentang tetek-bengek ihwal pementasan. Saya lebih banyak tertarik dengan—menurut saya--pesan sosial yang ingin disampaikan oleh pementasan tersebut. Tentunya ketertarikan itu pun subjektif saya.
Dunia terlukis dalam sebentuk kekacauan. Barangkali inilah kritik yang ingin disampaikan atas kondisi dunia saat ini sebagai resiko modernitas. Modernitas bukan hanya membawa manusia pada rasionalisasi, namun juga lengkap dengan kengerian-kengerian. Pembabatan hutan, berbagai pembunuhan, limbah produksi, konsumerisme, adalah sebagian kengerian yang melengkapi kehidupan modern.
Televisi secara langsung maupun tidak, di sebagian wajahnya, turut membentuk kekacauan itu. Tabung televisi mendidik dan menenggelamkan manusia, sekaligus menjadi candu yang menuntut kita untuk patuh. Meski tanpa alasan apapun! Dalam berbagai hal, televisi mengaburkan realitas, sebab televisi bukan merefleksikan, namun merepresentasikan realitas. Proses representasi realitas itu kemudian menempatkan televisi sebagai pembentuk realitas baru.
Alam benda berubah menjadi bentuk dan warna-warna, manusia menjadi bentuk dan warna-warna. Bentuk dan warna-warna manusia dan alam benda ditentukan oleh sesuatu yang berada di luar keduanya, yakni segala yang berbau modernitas. Manusia, mula-mula sebagai pembentuk dan mewarnai teknologi, kini terbalik, manusia dijadikan objek, diwarnai, bahkan dibentuk oleh teknologi. Yang berperan bukan lagi rasionalitas seperti halnya cita-cita modernisme, namun sebaliknya, irasionalitas. Tak ada lagi puisi yang mengantar kita pada kebeningan. Sebab dunia sudah hiruk-pikuk oleh televisi, teknologi, dan produk kapitalisme.
Dunia dibangun melalui rangkaian tanda dan simbol. Orang miskin, orang kaya akan terlihat berbeda melalui simbol yang menempel dan dikonsumsi oleh tubuhnya. Konsumsi tak lagi berpijak pada fungsionalitas, tapi memenuhi selera hasrat. Pada level konsumsi ini terjadi pembedaan (diferensiasi) antara kaya-miskin. Mereka yang memiliki banyak uang dapat memenuhi apapun keinginan mereka, yang miskin tentu tidak.
Kekacauan lain, adalah ketika kita tak lagi percaya pada rumah dan hubungan darah. Rumah, sebagai sebentuk masa lalu dan tempat istirah dari setiap perjalanan, menjadi tempat asing yang kerap disingkiri. Kita tak lagi menemukan potret masa lalu di situ. Kita tak lagi percaya bahwa rumah adalah tempat untuk kembali. Sehingga, akhirnya kita pun tak pernah kembali sama sekali. Kita tak pernah menziarahi masa lalu. Sebab, dunia memaksa kita untuk berputar dalam logikanya.
Hubungan darah pun akhirnya adalah hal yang musykil dalam modernitas. Seorang anak dibesarkan, hanya untuk dibesarkan. Hanya itu, tak lebih. Toh, pada akhirnya ia akan mencari hidupnya sendiri dan tak akan pernah kembali. Juga ketika silsilah dan ikatan darah itu memanggil. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa rumah,—sebagai tempat kembali—adalah ruang asing bagi kita suatu ketika nanti. Ketiadaan ikatan tersebut seolah ingin mengatakan, “kita telah mengubur anak-anak kita sendiri.” Sengaja atau tidak.

Di luar hujan, dan aku tak ingin ke mana pun!