“Kok pakeane koyo pakean londo, yo?” [Kok pakaiannya seperti pakaian Belanda ya?]
Kalimat itu meluncur dari kernet bus jalur tujuh, Yogyakarta yang saya tumpangi. Saya dalam perjalanan pulang. Bus hampir penuh terisi sore itu. Udara pengap. Jalanan riuh. Bus melaju kencang, kadang mengerem mendadak di lampu merah. Saya menyebut bus jalur tujuh itu “bus balap”. Tapi saya sedang tidak tertarik untuk membahas bus kota yang saya tumpangi di sini. Saya lebih tertarik pada ucapan pak kernet tadi.