Pages

Showing posts with label Biografia. Show all posts
Showing posts with label Biografia. Show all posts

7.30.2010

Aku Mendayung Perahu Sendirian!

Fragmen Empat
Semua sudah pergi. Tinggal aku sendirian. Bibiku sudah lama tidak tinggal di sini. Sedang paman sering pergi untuk urusan yang aku tidak tahu. Mungkin bekerja, mencari uang. Aku tidak tahu. Paman juga tidak pernah mengatakan ke mana ia pergi. Hanya dalam beberapa kesempatan ia sering mengatakan ia mencari uang. Aku tidak paham apa arti semua itu. Kepergian bibiku dan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Aku belum mengerti persoalan orang dewasa.
Satu hal yang aku tahu dengan pasti. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku mesti menjalani semuanya dengan kesendirian itu. Bukan hanya belajar untuk hidup mandiri seperti nasihat yang sering masuk di telingaku. Tapi benar-benar sendiri. Aku, ibarat mendayung perahu sendirian.

11.09.2008

Perahu Retak

Fragmen tiga

Pada mulanya hanya kaca lemari yang pecah—yang hingga kini aku tak tahu sebabnya. Kemudian dukun, serta seringnya bibi pulang ke rumah ibunya. Ternyata bukan hanya di situ saja. Sebab akhirnya aku mesti sering di rumah sendirian, tidur di lantai sebagaimana ketika mereka masih ada. Yang berbeda, sekarang aku mesti masak sendiri. Mencuci sendiri dan mengurus “rumah” (yang dimaksud di sini adalah balai desa) itu sendirian.

Sekarang aku kelas tiga SD. Tentu senang naik kelas, apalagi nilai pelajaranku hampir selalu di atas teman-teman. Tentu saja, teman-temanku jarang belajar. Mereka kerjanya cuma main. Apalagi kalau bulan sedang purnama. Mereka akan keluar main petak umpet, gobak sodor, dan bercanda-canda. Biasanya mereka bermain di jalan depan rumahku. Aku mendengar mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa.

5.01.2008

Dukun

Fragmen Dua
Aku telah kembali ke rumah balai desa. Perasaan takut pada pamanku belum juga mau hilang. Aku menjalani kegiatan seperti biasa. Bangun pagi-pagi, terus shalat subuh. Menyapu lantai hingga ke teras balai desa. Mencuci piring. Kemudian menyiapkan peralatan sekolah. Setelah itu mandi di sendang seperti biasa dan pergi ke sekolah.
Kini aku bisa bertemu lagi dengan teman-temanku.
Bibi sering pergi ke rumah ibunya. Aku sering diajak serta kalau aku sedang libur atau kebetulan hari Minggu. Aku tak pernah menolak kalau diajak bibi. Di rumah bibiku pasti banyak jajan. Itulah yang membuatku tak sekali pun ada keinginan untuk menolak. Di ruang tamu pasti akan berjajar toples-toples yang berisi jajan.

4.04.2008

Rumah Balai Desa

Fragmen Satu

Aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas dua. Aku tinggal dengan adik bapakku. Diasuh oleh beliau dan istrinya. Paman seorang kepala desa. Kami bertiga, aku, paman, serta bibiku tinggal di balai desa. Sebab mereka belum punya rumah sendiri, jadilah balai desa menjadi tempat tinggal kami. Balai desa itu mempunyai dua ruangan. Ruangan depan untuk kantor, ruangan belakang biasanya dipakai untuk pertemuan. Ruang pertemuan itulah yang kami tempati. Berdesakan-desakan dengan meja, tumpukan kursi, barang-barang milik PKK, sepetak dapur tanpa sekat, dan sebuah kamar yang terletak di pojok kiri depan.

Kamar itu berisi sebuah dipan, satu meja, dan lemari. Pakaian kotor kadang menggantung dan menumpuk di situ. Pakaian yang belum sempat disetrika menumpuk di dipan. Sepatu dan sandal berjajar di salah satu sudutnya. Yang masih dipakai atau yang sudah tak terpakai. Di lemari tersimpan pakaian dan ijazah serta surat-surat berharga. Tak ada kasur di atas dipan itu, hanya sebuah tikar plastik.